Beranikah Siahaan Mengungkap Aktor Dugaan Korupsi SPPD Fiktif DPRD Kotamobagu??

Bagikan Berita ini!

Kotamobagu-Lidik.net, Lembaga Pemantau Pelayanan Publik Totabuan (LP3T) Bolmong Raya, melalui sekretaris LP3T, Irawan Damopolii, SH menantang Kapolres Bolaang Mongondow yang baru AKBP. Gani F. Siahaan, SIK SH MH, untuk mengusut tuntas dan mengungkap misteri siapa aktor dugaan korupsi perjalanan dinas fiktif yang seolah mengendap di meja penyidik tipidkor Polres Bolmong sejak tahun 2013 lalu.

“Ini menyangkut uang rakyat dan angkanya yang cukup fantastis, maka harus diusut tuntas dan harus diproses secara hukum seluruh pelaku yang terlibat dalam kasus ini,” ujar Irawan kepada wartawan Lidik-net.

“Kasus tersebut terjadi sejak tahun anggaran 2013 lalu, seharusnya sudah selesai dilakukan penyidikan dan naik tahap penyelidikan, sejumlah saksi yang sudah diperiksa dan barang bukti sudah sangat cukup bagi penyidik untuk merampungkan berkas dan kemudian dilimpahkan ke Kejaksaan.”

“Harusnya kasus tersebut sudah ada yang ditetapkan sebagai tersangka bahkan kasusnya sudah dilimpahkan ke Kejaksaan. Sebab dari bukti dan keterangan yang ada, kegiatan perjalanan dinas tersebut ternyata tidak mampu dipertanggungjawabkan,” tegas Damopolii.

Diketahui sebelumnya, kasus tersebut penyidik Tipikor Polres Bolmong telah melakukan pemeriksaan kepada sejumlah pejabat mereka adalah mantan sekretaris Dewan (Sekwan) Kotamobagu IM alias Ir dan eks Bendahara pengeluaran RM alias Rin. Tidak hanya itu, penyidik Tipikor Polres Bolmong juga melakukan pemeriksaan kepada DZ alias Dol yang saat itu menjabat sebagai Sekwan, AS alias Lex sebagai Kepala Inspektorat, dan Mantan kepala Inspektorat WB alias Wi.

Dari keterangan salah satu sumber di Polres Bolmong, bahwa hasil penyelidikan sementara telah menemukan sekitar 25 SPPD milik para anggota DPRD yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Selain itu terdapat dugaan peminjaman uang kas Setwan sebesar 300 juta rupiah, yang dipinjam oleh empat orang mantan anggota DPRD Kota Kotamobagu periode 2009-2014, yang dibuktikan dengan adanya kwitansi peminjaman.

Baca juga:   Sunny Beberkan Relasi Sanusi dengan Pengusaha Reklamasi

“Kami selaku Lembaga Swadaya Masyarakat menantang Bapak Kapolres Bolmong apakah berani mengungkap kasus korupsi ini dan menindak oknum pejabat yang terlibat, sebab kasus ini sudah lama mengendap di meja penyidik Tipidkor Polres bolmong semenjak tahun 2013,” kata Irawan. (Red)

 

Nyapres gak cukup dana makanya cari muka ama Cendana !!! jangan jenderal nanti malah jadi bencana pak jenderal…….

 

Setelah semalam saya membalas puisi Bapak saat Rapimnas Golkar di Balikpapan ” Tapi Bukan kami Punya ” yang ditulis Deny JA, dan saya sudah membalasnya ” Kami Punya Apa “, tujuannya adalah agar Bapak lebih wise dalam bersikap sebagai salah satu putra terbaik Indonesia yang sedang menduduki jabatan bukan sembarangan. Pasukan Bapak berjumlah hampir 450.000 personel, dididik untuk cinta kepada Indonesia, cinta kepada Bangsa dan tanah airnya. Ucapan Bapak tidak sama dengan obrolan di warung kopi, Bapak batuk saja bisa disalah artikan apa pakai ditutup tangan apa ditutup sapu tangan. Puisi bernada kritik ini bagus tujuannya, tapi sayang salah waktunya harusnya puisi itu dibaca saat Soeharto masih ada, atau minimal saat SBY berkuasa, kalau sekarang Jokowi sedang membereskan ketidak beresan pemerintah sebelumnya, maka, kelihatan kita jadi idiot dalam memahami kebenaran, akal kita terkungkung dibalut hegemoni masa lalu yang memilukan, profanitas itu tidak selalu menyangkut kekudusan dalam beragama, namun bisa menyangkut kebencian terhadap kebenaran.

Dalam berita di medsos yg lagi viral, saat Bapak ziarah di Astana Giri Bangun / makam Soeharto, Bapak memerintahkan para perajurit meneladani Soeharto, dan perintah pemutaran film G30S-PKI yang Bapak canangkan, sama keinginan Bapak dengan PKS dan Gerindra, sebenarnya ada apa. Tauladan apa yang bisa diambil dari seorang Soeharto sang jendral besar. Kami membaca sejarah bagimana detik-detik akhir dia memperlakukan Soekarno, bagaimana begitu banyak cerita tentang rekayasa Super Semar, termasuk film G30S-PKI yg menyisakan banyak misteri karena dibuat untuk kepentingan Soeharto sendiri.

Baca juga:   Ledakan Bom Surabaya

Tragedi kemanusiaan yg tercatat dalam sejarah dunia itu menyisakan luka menganga didarah rakyat Indonesia, PKI satu hal, rekayasa menjadi hal lain, belum lagi isu CIA yg memang pemain lama untuk tujuannya, dan mengorbankan apa saja demi mereka. Ditambah lagi saat Bapak menjawab pertanyaan Karni Ilyas di ILC, kalimat ” emang gue pikirin ” itu tidak selayaknya keluar dari suara seorang jendral berpasukan besar. Tangkapan kami itulah sikap Bapak terhadap republik ini, lu mau hancur, lu mau chaos, emang gue pikirin, terus betapa runyammnya negeri ini yg keamanannya secara keseluruhan ada di pundak orang yang integritasnya membuat kami, rakyat ini, menjadi ngeri. Sadar atau tidak Bapak diangkat oleh presiden karena dianggap mampu saling mengisi, kalau sekarang dalam kapasitas Bapak masih di bawah kendali panglima tertinggi, dan Bapak mulai membangun kompetisi sendiri, jadi apa negeri ini. Tapi sudah bisa dibaca, Bapak akan menjawab emang gue pikirin.

Saya agak shock mendengar apa yang Bapak sampaikan, ibarat tenggorokan tercekat dilewati air mendidih, maaf saya sampai bertanya apa Bapak sedang kesurupan kok enteng banget mengucapkan “emang gue pikirin ” , perajurit disuruh menauladani orang yang menjadikan Indonesia merana dan tertinggal jauh dari negeri tetangga. Kita ini bahkan untuk membuang sampah saja belum mengerti, karena tauladan kita cuma ngurus diri sendiri atau saat itu yang bahagia ya cuma ABRI, dari mulai lurah sampai Gubernur semua ditunjuk Cendana, bahkan Tomy bisa menunjuk asbak rokok jadi camat kalau dia mau.

Bapak boleh tidak suka kepada Jokowi, Bapak berhak punya ambisi menjadi RI-1 dinegeri ini, hanya saja cara Bapak ” norak “, masaklah Bapak niru Kivlan, koar-koar PKI, ditanya dimana, jawabnya “katanya”, bekas jendral kok pikirannya mendal kayak sendal. Pak, saya kasi tau ya,..film G30S-PKI itu bisa buat kami sembelit nasional, yg mau dimaknai apanya, nenek buyutnya komunis saja sudah jadi mbahnya kapitalis, lha kita disuruh nonton bekas cucunya yang sudah tak berbekas, mau disuruh nonton Soeharto yang berjasa menumpas PKI, dia bukan berjasa, dia dapat imbal jasa dari Amerika, sampai freeportpun mungkin dia punya, lihat saja kroninya yang sampai sekarang pada kaya-kaya. Kalaupun Bapak tidak ikut karena ketinggalan kreta, apa sekarang mau nyusul dengan kreta kencana.

Baca juga:   Tim Resmob Polsek Tikala Ringkus Pelaku Penganiayaan

Sudahlah Pak, bingung saya, sampai saya menduga Bapak mau Nyapres gak cukup dana makanya cari muka ama Cendana, kalau itu menjadi rencana, Bapak salah dan celaka, karena rakyat Indonesia ini sekarang pegang gadget +/- 70 juta, pakai internet 132 juta, ini lompatan pemakan informasi luar biasa, lihat saja Bapak ngomong didepan kuburan Soeharto, detik itu juga orang ACEH bisa membacanya. Dan dari sudut pangsa pasar Cendana sudah kadaluwarsa, dia pasti kalah dengan produk kekinian yang merakyat dan bersahaja, kerja tanpa banyak bicara, hasilnya sudah dirasa sampai Papua. Begitupun saya tetap hormat kepada Bapak, dalam karir militer yang panjang Bapak telah mematri kesetiaan kepada negara tercinta Indonesia, itulah yang saya sayangkan bila dipenghujung karir Bapak terpelintir karena nafsu segelintir. Ingat Pak, Bapak orang terkemuka dan terhormat dimata keluarga serta kolega, jangan Bapak salah menyapa, nanti nggak dapat hadiah sepeda.

Bapak bisa ngga untuk lebih bijak bersikap, jangan ikut-ikutan kalap, bekas jendral boleh kalap, jendral jangan Pak, Jangan !!, sayang..

Aku juga mau sepeda pak jenderal…

About admin conect to Presiden Jokowi, Panglima TNI, Kapolri, Kajagung, KPK, BNN, Cyber Pungli 3021 Articles
LIDIK.NET adalah media online yang tegas dalam mengungkap skandal korupsi di negeri ini