Korupsi Proyek Pemecah Ombak, Kasiedik Kejati Sulut Tegaskan Tak Lama lagi Akan Ada Tersangka Baru Sesuai Dakwaan



Bagikan Berita ini!

LIDIK.NET – MANADO, Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara Kajati Sulut) melalui Kepala Seksi Penyelidikan, Lukman Effendy, SH memastikan akan ada Tersangka baru pada kasus tindak pidana korupsi proyek penanganan darurat pembuatan tanggul penahan/pemecah ombak di desa Likupang II Kabupaten Minahasa Utara tahun 2016.

“Tunggu saja kejutannya. Akan ada Tersangka baru,” ujar Lukman di kantornya, Senin (19/02/2018) petang.

Lukman menegaskan, pihak Kejati Sulut sangat serius memproses kasus korupsi ini. “Kami serius menangani kasus korupsi ini. Selama ini publik menilai kami negatif. Ini kasus yang mudah, tapi perlu ketelitian,” jelasnya.

Saat di cecar inisial calon Tersangka baru, dengan bijak Lukman menyebut di Surat Dakwaan sudah dijelaskan. “Sudah baca dan dengarkan dakwaannya? Di surat dakwaan pada sidang perdana kemarin sudah sangat jelas, baik di Primair maupun Subsidiair. Kita tunggu saja kejutannya,” tegas Lukman.

Ia mengetahui selama ini publik menilai Penyidik Kejati Sulut tidak serius menangani kasus ini, bahkan ada tudingan main mata. “Kami memahami, publik mau cepat, tapi disini kami memiliki prosedur penanganan kasus. Tidak benar ada main mata dan tidak benar ada terima sesuatu,” tegas Lukman lagi.

Dari surat dakwaan terhadap Terdakwa dr. Rosa Marina Tidajoh, M.Kes, nomor Reg.Perk. : PDA- /R.1.16/Ft.1/01/2018 tanggal 25 Januari 2018 yang ditandatangani Penuntut Umum, Bobby Ruswin, SH, MH yang diterima dari sebuah Sumber, disebutkan secara jelas dan gamblang disebutkan nama Bupati Kabupaten Minahasa Utara, Vonnie Anneke Panambunan dan mantan Kapolresta Manado, Kombes Pol. Rio Permana.

Terdakwa dr. Rosa Marina Tidajoh melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, yaitu memperkaya diri terdakwa sebesar Rp 100 juta, atau orang lain yaitu Robby Maukar sebesar Rp 348 juta, Vonnie Anneke Panambunan sebesar Rp 8.365.015.856,06.

Baca juga:   PT. JRBM Diduga Menggunakan Merkuri, Kasus Minamata Dikhawatirkan Bakal Terulang

Di akhir dakwaan Primair dan Subsidiair disebutkan, akibat perbuatan Terdakwa dr. Rosa Marina Tidajoh, M.Kes melakukan atau turut melakukan bersama dengan Steven Hendrik Solang dan Robby Maukar secara melawan hukum didalam kegiatan penanganan darurat pembuatan tanggul penahan/pemecah ombak di desa Likupang II pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Minahasa Utara TA. 2016 telah memperkaya diri sendiri atau orang lain, yakni Robby Maukar, Vonnie Anneke Panambunan, dan Rio Permana berdasarkan perhitungan ahli BPKP, Nasrullah, SE yang dituangkan dalam Laporan Hasil Audit Dalam Rangka Penghitungan Kerugian Keuangan Negara atas Dugaan Tindak Pidana Korupsi pada kegiatan penanganan darurat pembuatan tanggul penahan/pemecah ombak desa Likupang II pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Minahasa Utara Tahun Anggaran 2016 nomor SR-384/PW18/5/2017 tanggal 17 Oktober 2017, menyatakan bahwa telah terjadi kerugian keuangan negara/Daerah dalam kasus Dugaan Tindak Pidana Korupsi pada kegiatan penanganan darurat pembuatan tanggul penahan/pemecah ombak desa Likupang II pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Minahasa Utara Tahun Anggaran 2016 adalah sebesar Rp 8.813.015.856,06.

Sebelumnya disebutkan juga, saat PT. Manguni Makasiouw Minahasa (PT. MMM) memulai pekerjaan, ternyata pekerjaan sudah berjalan sekitar 40% yang dikerjakan oleh Rio Permana.

Diketahui, antara Bupati Kabupaten Minahasa Utara, Vonnie Anneke Panambunan dan mantan Kapolresta Manado, Kombes. Pol. Rio Permana memiliki hubungan spesial. ( irwan )