Tempat Produksi Miras Di Bau bau Digrebek Polisi



Bagikan Berita ini!

LIDIK – BAUBAU – Polsek Murhum, Polres Kota Baubau, menggerebek tempat penyulingan dan pembuatan minuman keras (miras tradisional jenis Arak dan “Konau”, di Kelurahan Sulaa, Kecamatan Betoambari, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, Kamis pagi 24 Agustus 2017. Penggerebakan itu, selain dari laporan warga juga merupakan agenda utama operasi Pekat Anoa 2017.

Pada saat penggerebekan antara pukul 10.00 WITA, Polisi mengamankan 500 liter Arak dan Konau, delapan Drum atau Tong Air Plastik Biru berukuran 200 liter, dua unit kompor Gas satu tungku merek Quantum, dua buah Panci Dandang Nasi besar yang terbuat dari Aluminium, beberapa Jerigen lima liter Bimoli atau jenis lainnya. Beberapa batang Bambu yang merupakan alat penyulingan miras tradisional Arak dan beberapa barang bukti lainnya milik La Adu (45).

Di Tempat Kejadian Perkara (TKP), Kapolsek Murhum, Iptu Sukry Masse mengatakan, kegiatan penggerebekan merupakan giat seluruh anggota Polsek Murhum sendiri, menindak lanjuti laporan warga ternyata benar adanya.

“Ini tungku api dalam posisi menyala, ini Arak aslinya belum di campur (oplosan), ini hasil penyulingan menetes di Jerigen,” sebut Kapolsek Murhum, Iptu Sukry Masse, sambil memperlihatkan barang bukti di tempat produksi miras tradisional tersebut.

Istri La Adu, Wa Ode Hajija (38) di lokasi kejadian dalam suasana penggerebekan mengatakan, alasan produksi miras Arak dan Konau adalah meneruskan tradisi orang tuanya. Disamping itu kata Hajija, menjadi salah satu mata pencaharian untuk kebutuhan rumah tangga.

“Artinya begini pak, orang tuaku dulu kalau tidak minum begini tidak bisa “anu”. Ini belum lama kita bikin, pas suami balik dari Irian Jaya baru dia kerja ini. Ini belum lama kita bikin, mungkin sudah satu tahun lebih,” sebut Hajija saat ditanyai seorang anggota Provos Polsek Murhum.

Seusai Hajija menjelaskan, suaminya La Adu muncul di dalam ruangan penyulingan langsung memberikan keterangan yang berbeda, produksi miras tradisional ini baru sebulan terakhir. Lanjut ia katakan, bahan pembuatan miras ini dari Gula Pasir sebanyak 25 kilogram ditambah 20 buah Gula Merah.

Selanjutnya, direndam dengan Air bersih sekitar 200 liter di dalam Drum selama beberapa hari, maka jadilah Konau. Setelah itu, kata La Adu, air Konau dimasak di dalam panci besar menggunakan Tungku Gas, untuk menghasilkan uap atau Arak yang menetes di Jerigen melalui terowongan Bambu besar.

“Campurannya dari Gula Pasir, baru kasih air, baru disuling mi,” tuturnya saat ditanya Kapolsek Murhum.

Menurutnya, hasil produksi miras didistribusikan ke Wakatobi melalui kapal motor laut di jembatan Batu, atas pesanan keluarganya pada saat acara-acara kampung.

“Kadang mereka pesan satu dos, berisikan kadang 30 botol air mineral yang sedang,” tutupnya.

Ibu RT setempat, Arfa mersa kaget saat menyaksikan tempat penyulingan Arak dan Konau, karena selama ini, melihat suami Hajija hanya urus anak antar jemput ke sekolah.

“Saya jarang juga ke sini, kita tetanggaan sudah dua tahun ini. Setahu saya waktu saudaranya meninggal di situ tempatnya, ini masih kandang kambing. Saya tidak tahu dia begini ini tempat, saya tugas di sini baru dua tahun,” tutupnya dengan singkat saat melihat prosesi penggerebekan yang dilakukan aparat Polsek Murhum. (Red)